Kumpulan dan Contoh Puisi Bahasa Indonesia Singkat

Kumpulan dan Contoh Puisi

Ibu Kota Senja
Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuil-kuil berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai kesayangan, o, kota kekasih
Klakson oto dan lonceng term saing-menyaingi
Udara menekan berat di atas jalan panjang yang berkelok
Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengurai layang-layang membara di langit barat daya
O, kota kekasih
Tekanan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu
Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diliputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut
Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dini hari
Serta di keabadian mimpi-mimpi manusia
Klakson dan lonceng berbunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuil-kuil yang kembali
Dan perempuan yang mendaki tepi sungai kesayangan
Serta anak-anak berenang tertawa tak berdosa
Di bawah bayangan asmara istana kejang
Layang-layang senja melambang hilang
Dalam hitam malam tergesa
Sumber-sumber murni menatap terpendam
Senantiasa diliputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas
O, kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku

Solilude
Di Genting Highlands aku melihat wajahmu
Di Genting Highlands aku mendengar suaramu
Di antara dua tebing
Di atas jembatan kayu
Aku terdiam menahan rindu
Kekasihku, kekasihku
Ijinkan aku mendaki bukit-bukit
dan menuruni jurang-jurang
tanpa menjawab pertanyaanmu
Aku mendengar ada yang menjerit
Ketika dinamit itu meledakkan bukit-bukit
Kabut gemetar berlarian tak tentu arah
Ketika dari moncong-moncong asap raksasa
debu hitam menyembur ke angkasa
Burung-burung menangis sepanjang hari
Melihat hutannya musnah sekaki demi sekaki
Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini
Kekasih, katakan apa yang harus kulakukan
Setelah menulis semuanya ini dalam puisi
(Eka Budianta)

Padamu Jua
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita Kaulah jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang terulang padamu juga
Engkau pelik penarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu-bukan giliranku
Matahari-bukan kawanku ....
(Amir Hamzah dalam Nyanyian Sunyi)

Sawah
Sawah tersusun di lereng gunung,
Berpagar dengan bukit barisan,
Sayup-sayup ujung ke ujung,
Padi mudanya hijau berdandan,
Di dangau perawan duduk menyulam,
Matanya memandang padi huma,
Sekali-kali ia bernalam,
Dipetik dari hati mudanya,
Kalu turun pipit berkawan,
Merayap hingga ke mayang padi,
Terdengar teriak suara perawan,
Menyuruh pipit menjauhkan diri,
Kalau pipit sudah terbang,
Melayang hilang pulang ke rimba,
Perawan bernyanyi menembang tembang,
Menyesali pipit tak tahu iba,
“Mengapa engkau ajuhai pipit,
Tak tau diarti iba kasihan,
Badanku payah menanggung sakit,
Mencucur keringat sepanjang zaman,
Padi kupupuk sejak semula,
Engkau tahu memakan apa saja?”
                                                                                                         A. Hasymy

Telah Kutulis Badai
telah kutulis badai ketika perang menyala
langit memaknainya bagian dari darah (barangkali luka
kampung kita yang masih netes) kita di sudut yang mana
bila nasib dikapling, segala terus digusur-gusur
orang-orang mengibarkan warna-warna dan kekuatan bukan
berada di balik puisi “ucapkan tangis pada laut?”
di negeri yang bergelombang, hutan-hutan telah kering
sedang perpacuan tetap tak ingin berhenti
sekian tahun pagi kurindu (kopi itu tak juga
kau panaskan) selain matamu yang sabar
mungkin aku terkubur puing-puing, namun pada badai
masih setia, andai sesaat kelak kau berdendang
bukan tentang tahta atau nilai uang
bukan tentang harta atau pembunuhan, bisa saja pantai
hingga orang-orang tak selalu berkeluh-keluh dengan harapan
dan di tepi-tepi kota menjerit, “pelajaran yang cengeng!” katamu
aku pun berangkat, segera melunasi musim yang tersisa
mengakulah, tak ada srigala di matamu
telah kutulis badai
dan ingin menyanyikannya denganmu
di kampung kita, negeri yang bergelombang.
(Sumber: dikutip dari karya Iyut Fitra, Horison Sastra Indonesia 1:
Kitab Puisi. Editor Taufik Ismail, dkk., Horison-The Ford Foundation, Jakarta, 2002)




Anak Jalanan
Gendhotwukir
Kenapa di mimpimu ada gerimis datang;
dideras lautan bergelombang
Menggenang. Wajah jalanan melayang
Di tengah harapan mengambang
Saat membaca petang
Anak jalanan
Menjadi ribuan kunang
Di hari-hari yang kian memanjang
Menginjak bayang
Di negri sesak hutang
Jerman, November 05
Pikiran Rakyat, Jumat, 02 Desember 2005

Kuserahkan Debarku Kepadamu
Nazaruddin Azhar
kuserahkan debarku kepadamu
kupu-kupu yang menanggalkan sayapnya di taman
dan memilih diam dari seruan bunga-bunga hitam
mencintai seribu hari ini
dan malam yang satu, kuserahkan ruhku padamu
dari sela derit pintu dan detak jam
yang mengelupas diri ringkas waktu
tiada aku
tiada seorang di tegas masa silam
yang mengorbankan cermin
saat belukar tumbuh di abu kata
seekor kijang yang lumpuh
terbakar seribu ledakan, dari cinta
yang tak pernah terungkapkan
setelah kematian demi kematian
menakik selengkap perjalanan
Hijau Kelon dan Puisi 2002

Subscribe Untuk Mendapatkan Updata Artikel

loading...

0 Response to "Kumpulan dan Contoh Puisi Bahasa Indonesia Singkat"

Post a Comment